Jumat, 10 Juli 2009

Suara Keledai

oleh : Sang Murid

Di dalam Al-Quran ada disebut bahwa ulama (kaum terpelajar/intelek) itu adalah pewaris nabi. Apakah tugas para nabi? Tugas nabi adalah membangun masyarakat dalam sebuah sistem yang bermartabat, adil dan sejahtera. Apakah mungkin kaum badui, yang tidak tahu baca tulis, yang tidak baca Qur'an, yang tidak baca Hadis, yang tidak baca Karl Max, Naisbit, Toffler, Ali Shariati, Tan Malaka, Soekarno dst-nya mampu memberikan guidance terhadap pembangunan peradaban? Nabi-Nabi tu bukan tokoh fiksi. Kehadirannya adalah sebagai kaum intelek yang mendapat bimbingan Allah SWT. Itulah kenapa ummat harus mempunyai marja' lil taqlid. Ulama yang menjadi sumber dalam menginterprestasi fiqh dan muamalah

Di Indonesia, ummat Islam sudah tidak lagi mempunyai marja'. Karena ulamanya habis dikooptasi dan terjadi pendangkalan pemahaman agama terutama dalam menyangkut taqlid pada ulama. Itulah keberhasilan terbesar orientalis di Indonesia yang di mulai oleh Snouck Hugronje di Aceh. Alih-alih berfikir dalam jihad dan ijtihad, kini kita disibukkan dengan qunud, wudhu dan thaharah.


Serta sufisme! Berzikir sambil menangis-nangis seperti kaum pentakosta. Mempunyai Allah kok malah jadi cengeng! bukan malah jadi berani! Ulama dan ummat pun menjadi lemot! Kita menangis-nangis dalam meminta ampun. Itu boleh saja tapi akan menjadi buruk dan dosa besar apabila kita berburuk sangka bahwa Allah tidak mengampuni dosa-dosa kita. Karena diantara dua sujud hapus semua dosa kita kecuali menserikatkan Allah. Termasuk dosa syirik karena takut kepada taghut! ataupun takut tidak makan jika membela kebenaran. Berzikir juga adalah amalan mulia asalkan dia bukan tempat pelarian dari realita. Kita tidak boleh lupa bahwa arti Mihrab adalah tempat bertempur!

Kehadiran kaum intelek sangat dianjurkan dalam Islam. Itulah mengapa dia mendapat derajad yang hampir mendekati derajad Nabi. Repotnya istilah kaum intelektual semakin rancu karena adanya orang yang cari makan dengan kemampuannya dan sebutannya sebagai intelektual. Itulah yang disebut oleh Gibran dalam syairnya tentang Bangsa Kasihan, yang salah satunya cirinya, intelektualnya adalah gentong nasi. Profesor, doktor dan master kita adalah gentong nasi!

Nah dalam pemilu lalu, ulama sebagai pewaris nabi sdh ditinggalkan ummat demi BLT. Padahal kelas menengah baik muslim dan non-muslim mayoritas mendukung JK. Terbukti hampir tidak ada kekuatan MUI, NU, Muhammadiyah, FUI, FPI, KAHMI, HMI dst-nya itu dalam mendukung JK. Kalah dengan BLT!

Ini merupakan sebuah fenomena baru. Bahwa kini ternyata masyarakat kita sudah semakin turun kelasnya. Semakin miskin dan terancam kelaparan. Dan kelompok borjuasi-nya tidak berkembang. Dan ini juga bukti demokrasi tidak selamanya baik. Kelas menengah yang terpelajar kalah dengan kelas miskin, bodoh tapi banyak..

Apakah mungkin kita membangun sebuah perubahan dan kebangkitan dimana pemerintahannya dibangun dari suara kaum miskin yang sebenarnya tidak berpartisipasi sama sekali. Partisipasinya hanya ditampilkan 5 tahun-an, setelah itu mereka kembali tenggelam dalam kebudayaan bisu-nya.. (sub merged in to culture of silence). Perubahan hanya ada dan akan berlangsung terus apabila ada oposisi yang perduli, berbicara dan bergerak! Dan oposisi itu hanya ada pada kelas menengah yang terpelajar dan mempunyai kehidupan yang lebih baik.

Jadi semua revolusi kaum miskin yang menghasilkan diktatorial akan menggunakan suara orang miskin untuk membangun kekuasannya. Yang berikutnya kekuasaan yang seperti itu akan membunuh kelas menengahnya secara sistematis. Itu akan dimulai dgn mengebiri kekuatan-kekuatan sipil yang sudah dan berpotensi menjadi oposisi pemerintah. Seperti Partai lawan dan kawan, KPK, DPR dan Ormas2 Islam, mahasiswa dan lain-lain.. dengan cara-cara kooptasi, intervensi, subversi, intimidasi, inflitrasi dan seterusnya.

Yang sudah pasti ke depan SBY akan menegaskan hegemoninya terutama di Partai Golkar, TNI dan merusak Prabowo serta Gerindra. Itu akan jadi prioritas utamanya. Dan apapun yang dilakukan SBY akan mendapat dukungan masyarakat internasional terutama Amerika. Karena SBY bekerja bukan untuk kepentingan dirinya, koalisinya, pendukungnya tapi untuk kepentingan hegemoni Amerika Serikat.

Nah lalu apa yang kemudian akan terjadi?? Itu persis terjadi seperti apa yang diceritakan Al-Quran tentang sebuah negeri :
1. Jika kaum intelektualnya tidak membentuk opoisi dan malah mengkooptasikan dirinya pada rezim. Maka negeri itu akan dibuat Allah sehancur-hancurnya..
2. Allah akan memberikan azab yang akan menghancurkan negeri itu seperti ketakutan (intel dan polisi bertindak sewenang-wenang seperti halnya dengan peristiwa mengejar teroris), perang (konflik), hama (karena tidak ada lagi subsidi untuk membeli pestisida), kelaparan (mis manjemen pertanian), wabah (ketiadaan obat2an), berhutang, bangkrut dst-nya, bencana alam yang tidak tertanggulangi dst-dstnya..
3. Allah telah membuktikan bangsa-bangsa yang kuat hancur lebur, baik peradabannya maupun kehadirannya dalam peta dunia karena terjadi separatism dan balkanisasi..
4. Para penjahat dan kaum kafir bebas berkeliaran, memfitnah agama ini, mengada-adakan hal yang buruk, memberangus dakwah, menangkapi ulama.
5. Dalam sebuah hadis juga diramalkan tentang dekatnya kiamat antara lain:
a. Seorang ibu akan melahirkan anak yang kemudian akan menjadi tuan bagi si ibu.. si ibu dipelihara tetapi dijadikan pembantu ataupun ibu kita sudah tidak kita pelihara tapi kita kirim sebagai TKI.
b. Adalah orang-orang bertelanjang kaki (miskin) tetapi akan memasuki gedung-gedung yang tinggi.( revolusi sosial?)
c. Orang bodoh berkhotbah di mimbar.. ya seperti SBY itulah!
d. Ummat ini banyak tapi tak berdaya, bagai buih diatas ombak lautan. Terhidang sebagai santapan kaum kafir.

Kau, aku dan banyak kawan-kawan kita memilih bukan SBY itu bukan karena kita yakin mereka akan menang. Semua kita ini sudah tahu SBY itu sukar untuk dikalahkan. Kita pilih itu, karena iman! Karena SBY adalah pelindung ahmadiyah dan komprador setan besar amerika. Kita ini semuanya berada dalam barisan SBY jauh lebih dahulu dari mereka yang sekarang bersorak sorai dibelakangnya. Kita memilih keluar dari SBY karena dia mengkhianati Islam dan bangsa ini. Itulah pilihan El-Hurr, pilihan orang merdeka! Pilihan orang yang tercatat sebagai syahid pertama dari pasukan Imam Hussain. Hari-hari itu kita bagaikan bertempur di Karbala melawan Yazid si Khalifah palsu!

Pahala atas pilihan kita itu kini mengalir ke kita laksana sungai tidak putus-putusnya sampai pada hari kita berhadap-hadapan langsung dengan Allah, saat kita semua semua pertanggung jawaban terhadap semua pilihan kita dan pertanggung jawaban kepemimpinan kita dalam melakukan perubahan.. Di hari itu kita termasuk dalam golongan orang yang telah berlepas diri dari nabi palsu ghulam ahmad, para pembunuh massal di Irak dan Afganistan, serta penyembah berhala yang melarung sajen pada setan sungai dan laut..

QS Lukman : 19
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Ayat diatas memang ditujukan sebagai sebuah peringatan agar jangan bersikap sombong, takabbur dan anjuran agar sopan santun dalam berbicara (termasuk peringatan kepada saya yang menulis ini). Tapi bagaimana jadinya kalau sang keledai bisa memberikan suara??? Maka terbangunlah sebuah rezim penindas yang akan memelihara sebanyak-banyaknya keledai.

Sekedar Tadrrus kita agar dalam hal apapun kita sebaiknya jangan berlaku curang, yaitu QS Al-Muthaffiffin : 1-9. Yang artinya adalah sbb :
(1) Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (2) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, (3) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (4) Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, (5) pada suatu hari yang besar, (6) (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (7) Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. (8) Tahukah, kamu apakah sijjin itu? (9) (Ialah) kitab yang bertulis.

Sadaqallahul'azim
Wallahu'alam.


Selengkapnya...

Tanya Jawab Dengan Seekor Cicak

Berikut nukilan tanya jawab antara seorang yang bingung dengan logo cicak-buaya dengan seseorang yang mengaku eksponen CICAK (meski berbaju batik dan bukan reptil). Selamat membaca!

Saya tergabung dalam komunitas pertemanan Facebook. Saya bingung melihat profile pic teman-teman saya berubah, dari yang tadinya foto dirinya dan anaknya atau sedang tertawa gembira berubah menjadi gambar cicak merah dan buaya hitam bertuliskan “ Saya Cicak Berani Lawan Buaya”. Maksudnya apa ini? Apakah mereka mendadak menjadi kelompok pembela hak satwa?

Profile pic itu berarti teman Anda menjadi bagian gerakan solidaritas CICAK, singkatan dari Cinta Indonesia Cinta KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Tidak ada hubungannya dengan kelompok pembela hak binatang, tapi kalau teman-teman dari pembela hak satwa mau bergabung, kami menerima dengan tangan terbuka lho.


Kenapa ada gerakan solidaritas CICAK untuk KPK? Bukankah, sebagaimana diberitakan media, KPK lembaga super?

KPK memang betul lembaga super, karena superioritas KPK ini, kami dari CICAK yakin, banyak pihak yang tidak suka dan mulai menyarangkan serangan tersistematisir terhadap KPK. Ini bukan kami mendramatisasi atau lebay lho, tapi coba Anda lebih jeli deh. KPK adalah lembaga super yang bertugas memberantas korupsi di Indonesia. Kenapa disebut super? Karena KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai pemeriksaan di pengadilan. Kewenangan penyelidikan dan penyidikan selama ini dikerjakan oleh kepolisian. Sedangkan penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan dikerjakan oleh kejaksaan. Jadi kerja dua instansi penegak hukum dikerjakan oleh KPK.
Tambah lagi, dalam UU KPK no.30/2002, disebutkan untuk mengadili penuntutan kasus korupsi yang dilakukan oleh KPK, pengadilan yang berwenang adalah pengadilan korupsi. Artinya, dibentuk pengadilan baru. Kekhususan pengadilan korupsi ini terutama dari komposisi hakimnya yang terdiri dari hakim pengadilan negeri dan hakim ad-hoc serta proses beracara. Hakim ad-hoc adalah hakim tambahan yang bukan berasal dari hakim karir, dari unsur masyarakat.

Kewenangan super KPK lainnya adalah KPK berwenang untuk mengambil alih penyidikan. yang sedang dikerjakan polisi. Apabila KPK mengambil alih penyidikan kasus, maka pihak kepolisian harus menyerahkan kasus tersebut dalam kurun waktu 14 hari pada KPK dan kepolisian tidak berwenang lagi menangani perkara tersebut.

Waks! Betul-betul super ya KPK ini. Bisa banyak musuh dong KPK?

Iya. Terutama musuh KPK adalah para koruptor, oknum pejabat dan aparat yang korup. Hal ini menjelaskan mengapa kami beranggapan ada serangan tersistematisir pada KPK

Ah, dasar cicak paranoid. Lembaga super begitu gimana mau diserang?

Anda sudah baca kan betapa superiornya kewenangan KPK dibanding
aparat penegak hukum lain? Belum lagi kewenangan KPK lain seperti penyadapan, pencekalan, blokir rekening, perintah pemecatan sampai membina kerjasama dengan Interpol. Dengan sedemikian banyak kewenangan, para koruptor tentu perlu merapatkan barisan untuk melumpuhkan KPK.

Tadi Anda bilang ada upaya sistematisir penyerangan terhadap KPK. Seperti apa sih?

Contoh paling mudah dengan tertunda-tundanya pembahasan RUU Pengadilan Tipikor. Memang betul sekarang ada pengadilan korupsi, tapi berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), untuk peradilan korupsi, harus diatur dalam UU tersendiri, tidak bisa menclok dalam UU KPK seperti sekarang. Nah masalahnya, dalam putusan MK tersebut ada jangka waktu, yaitu paling lambat tanggal 19 Desember 2009, harus sudah terbentuk UU Pengadilan Korupsi baru. Sedangkan nasib RUU itu sendiri sekarang masih dibahas oleh Panitia Khusus (Pansus) DPR. Dari limapuluh (50) anggota Pansus, hanya duapuluh (20) orang yang terpilih kembali. Masa sidang yang tersisa adalah dari 14 Agustus 2009 sampai 30 September 2009. Singkat kan? Itu baru sekedar contoh.

Kemudian seperti yang diberitakan oleh majalah Tempo edisi 6-12 Juli 2009, dilakukan pemeriksaan atas Wakil Pimpinan KPK Bagian Penindakan Chandra M. Hamzah atas dugaan penyadapan handphone Rhani dan Nasrudin. Menurut kami, pemeriksaan tersebut terlalu mengada-ada. Bukankah penyadapan bagian dari kewenangan KPK? Bisa dilihat di UU KPK No.30/2002 pasal 12 ayat 1 huruf a.

Nah waktu itu ada wawancara di majalah mingguan terkemuka nasional, yang mewawancarai seorang petinggi kepolisian. Di wawancara tersebut, bapak polisi menyebut soal cicak dan buaya. Apakah ada hubungannya?

Oh, maksud Anda berita di majalah Tempo 6-12 Juli yang judulnya Ramai-Ramai Gembosi KPK? Terus terang kami dari gerakan CICAK merasa berterima kasih karena berdasarkan wawancara itu istilah ‘cicak’ pertama kali muncul dan membuat kami makin terinspirasi untuk membuat suatu gerakan.

Apakah gerakan CICAK ditunggangi parpol?

Coba Anda perhatikan, selama ini justru kami para cicak yang menunggangi parpol. Sayangnya tunggang-menunggang sulit efektif kalau melibatkan parpol, apalagi mereka menyuarakannya hanya lima tahun sekali. Tolong catat ya.

Apakah “Kami CICAK” ini gerakan anti aparat?

Tentu tidak. Mengapa kami harus anti aparat penegak hukum? Tidak masuk logika dong, pemberantasan korupsi tanpa melibatkan aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Jangan membuat orang berfantasi yang tidak sehat ah.

Lho, kalau begitu, kenapa sebut-sebut buaya? Terus apa hubungannya dengan cicak? Kan buaya tidak makan cicak?

Pertama, tahu darimana Anda buaya tidak makan cicak? Memang Anda buaya? Kedua, buaya itu personifikasi semua yang buruk dari korupsi/koruptor. Memang kasihan sih buayanya, tapi kami yakin penampakan buaya dimanapun pasti bikin ngeri. Sama seperti koruptor. Ketiga, cicak itu melambangkan kami yang jumlahnya banyak tapi sering tak diperhitungkan partisipasinya, sering dilupakan tapi sering apes terjepit pintu atau tertindih lemari. Persis seperti cicak. Keempat, meski buaya dan cicak sama-sama reptil, sama seperti kami dengan koruptor yang sama-sama manusia, tapi kami tidak mau mengambil apa yang bukan hak kami, tidak seperti koruptor.

Menurut Anda, penting ya mendukung gerakan KAMI CICAK ini?

Sekarang coba jangan gunakan kata “Anda” lagi. Gunakan kita. Karena kita sama-sama anti korupsi, kita percaya Indonesia kita ini, yang kita harus rawat sebaik-baiknya, akan lebih baik tanpa korupsi. Dan kita, seperti cicak yang sering tak berdaya, tidak dianggap dan terjepit, mampu dan berani bersuara melawan buaya koruptor

Wah, sepertinya Anda kompor betul ya!

Jangan gunakan Anda lagi! Anda, saya, kita semua, para cicak, akan mendeklarasikan GERAKAN CICAK. Tunggu tanggal mainnya.

Tunggu, tunggu, pertanyaan terakhir. Jadi siapa sebenarnya cicak?

Siapa itu cicak? Cicak itu anda, saya dan kita semua! Hidup CICAK (Cinta Indonesia, Cinta KPK)

http://politikana.com/baca/2009/07/10/tanya-jawab-dengan-seekor-cicak.htmlKenapa ada gerakan solidaritas CICAK untuk KPK? Bukankah, sebagaimana diberitakan media, KPK lembaga super?

KPK memang betul lembaga super, karena superioritas KPK ini, kami dari CICAK yakin, banyak pihak yang tidak suka dan mulai menyarangkan serangan tersistematisir terhadap KPK. Ini bukan kami mendramatisasi atau lebay lho, tapi coba Anda lebih jeli deh. KPK adalah lembaga super yang bertugas memberantas korupsi di Indonesia. Kenapa disebut super? Karena KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai pemeriksaan di pengadilan. Kewenangan penyelidikan dan penyidikan selama ini dikerjakan oleh kepolisian. Sedangkan penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan dikerjakan oleh kejaksaan. Jadi kerja dua instansi penegak hukum dikerjakan oleh KPK.
Tambah lagi, dalam UU KPK no.30/2002, disebutkan untuk mengadili penuntutan kasus korupsi yang dilakukan oleh KPK, pengadilan yang berwenang adalah pengadilan korupsi. Artinya, dibentuk pengadilan baru. Kekhususan pengadilan korupsi ini terutama dari komposisi hakimnya yang terdiri dari hakim pengadilan negeri dan hakim ad-hoc serta proses beracara. Hakim ad-hoc adalah hakim tambahan yang bukan berasal dari hakim karir, dari unsur masyarakat.

Kewenangan super KPK lainnya adalah KPK berwenang untuk mengambil alih penyidikan. yang sedang dikerjakan polisi. Apabila KPK mengambil alih penyidikan kasus, maka pihak kepolisian harus menyerahkan kasus tersebut dalam kurun waktu 14 hari pada KPK dan kepolisian tidak berwenang lagi menangani perkara tersebut.

Waks! Betul-betul super ya KPK ini. Bisa banyak musuh dong KPK?

Iya. Terutama musuh KPK adalah para koruptor, oknum pejabat dan aparat yang korup. Hal ini menjelaskan mengapa kami beranggapan ada serangan tersistematisir pada KPK

Ah, dasar cicak paranoid. Lembaga super begitu gimana mau diserang?

Anda sudah baca kan betapa superiornya kewenangan KPK dibanding
aparat penegak hukum lain? Belum lagi kewenangan KPK lain seperti penyadapan, pencekalan, blokir rekening, perintah pemecatan sampai membina kerjasama dengan Interpol. Dengan sedemikian banyak kewenangan, para koruptor tentu perlu merapatkan barisan untuk melumpuhkan KPK.

Tadi Anda bilang ada upaya sistematisir penyerangan terhadap KPK. Seperti apa sih?

Contoh paling mudah dengan tertunda-tundanya pembahasan RUU Pengadilan Tipikor. Memang betul sekarang ada pengadilan korupsi, tapi berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), untuk peradilan korupsi, harus diatur dalam UU tersendiri, tidak bisa menclok dalam UU KPK seperti sekarang. Nah masalahnya, dalam putusan MK tersebut ada jangka waktu, yaitu paling lambat tanggal 19 Desember 2009, harus sudah terbentuk UU Pengadilan Korupsi baru. Sedangkan nasib RUU itu sendiri sekarang masih dibahas oleh Panitia Khusus (Pansus) DPR. Dari limapuluh (50) anggota Pansus, hanya duapuluh (20) orang yang terpilih kembali. Masa sidang yang tersisa adalah dari 14 Agustus 2009 sampai 30 September 2009. Singkat kan? Itu baru sekedar contoh.

Kemudian seperti yang diberitakan oleh majalah Tempo edisi 6-12 Juli 2009, dilakukan pemeriksaan atas Wakil Pimpinan KPK Bagian Penindakan Chandra M. Hamzah atas dugaan penyadapan handphone Rhani dan Nasrudin. Menurut kami, pemeriksaan tersebut terlalu mengada-ada. Bukankah penyadapan bagian dari kewenangan KPK? Bisa dilihat di UU KPK No.30/2002 pasal 12 ayat 1 huruf a.

Nah waktu itu ada wawancara di majalah mingguan terkemuka nasional, yang mewawancarai seorang petinggi kepolisian. Di wawancara tersebut, bapak polisi menyebut soal cicak dan buaya. Apakah ada hubungannya?

Oh, maksud Anda berita di majalah Tempo 6-12 Juli yang judulnya Ramai-Ramai Gembosi KPK? Terus terang kami dari gerakan CICAK merasa berterima kasih karena berdasarkan wawancara itu istilah ‘cicak’ pertama kali muncul dan membuat kami makin terinspirasi untuk membuat suatu gerakan.

Apakah gerakan CICAK ditunggangi parpol?

Coba Anda perhatikan, selama ini justru kami para cicak yang menunggangi parpol. Sayangnya tunggang-menunggang sulit efektif kalau melibatkan parpol, apalagi mereka menyuarakannya hanya lima tahun sekali. Tolong catat ya.

Apakah “Kami CICAK” ini gerakan anti aparat?

Tentu tidak. Mengapa kami harus anti aparat penegak hukum? Tidak masuk logika dong, pemberantasan korupsi tanpa melibatkan aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Jangan membuat orang berfantasi yang tidak sehat ah.

Lho, kalau begitu, kenapa sebut-sebut buaya? Terus apa hubungannya dengan cicak? Kan buaya tidak makan cicak?

Pertama, tahu darimana Anda buaya tidak makan cicak? Memang Anda buaya? Kedua, buaya itu personifikasi semua yang buruk dari korupsi/koruptor. Memang kasihan sih buayanya, tapi kami yakin penampakan buaya dimanapun pasti bikin ngeri. Sama seperti koruptor. Ketiga, cicak itu melambangkan kami yang jumlahnya banyak tapi sering tak diperhitungkan partisipasinya, sering dilupakan tapi sering apes terjepit pintu atau tertindih lemari. Persis seperti cicak. Keempat, meski buaya dan cicak sama-sama reptil, sama seperti kami dengan koruptor yang sama-sama manusia, tapi kami tidak mau mengambil apa yang bukan hak kami, tidak seperti koruptor.

Menurut Anda, penting ya mendukung gerakan KAMI CICAK ini?

Sekarang coba jangan gunakan kata “Anda” lagi. Gunakan kita. Karena kita sama-sama anti korupsi, kita percaya Indonesia kita ini, yang kita harus rawat sebaik-baiknya, akan lebih baik tanpa korupsi. Dan kita, seperti cicak yang sering tak berdaya, tidak dianggap dan terjepit, mampu dan berani bersuara melawan buaya koruptor

Wah, sepertinya Anda kompor betul ya!

Jangan gunakan Anda lagi! Anda, saya, kita semua, para cicak, akan mendeklarasikan GERAKAN CICAK. Tunggu tanggal mainnya.

Tunggu, tunggu, pertanyaan terakhir. Jadi siapa sebenarnya cicak?

Siapa itu cicak? Cicak itu anda, saya dan kita semua! Hidup CICAK (Cinta Indonesia, Cinta KPK)

http://politikana.com/baca/2009/07/10/tanya-jawab-dengan-seekor-cicak.html


Selengkapnya...

AYO DUKUNG CICAK LAWAN BUAYA!

Senin, 6 Jul '09 21:15

"...cicak kok mau melawan buaya..."
(Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Susno Duadji, Majalah TEMPO 6-12 Juli 2009)

Pernyataan Kepala Bagian Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji membawa ingatan kita pada perseteruan antara polisi dengan Independent Commission Against Corruption (ICAC), lembaga pemberantasan korupsi di Hongkong (Kompas, 2 Juli 2009).

Pada tahun 1977, "KPK Hongkong" tersebut membongkar kasus korupsi Kepala Polisi Hongkong yang tertangkap tangan menyimpan aset sebesar 4,3 juta dollar Hongkong dan menyembunyikan uang 600.000 dollar AS.


Akibatnya, beberapa saat kemudian, Kantor ICAC digempur oleh polisi Hongkong. Setelah pengadilan memutuskan bahwa Kepala Polisi tersebut memang terbukti bersalah dan ICAC terbukti bersih, maka Hongkong pun kini dikenal sebagai negara yang relatif bersih dari tindak pidana korupsi. Dan fakta ini tak lepas dari kinerja ICAC.

Di Indonesia, ketika Indeks Persepsi Korupsi kita semakin membaik, berbagai pihak saat ini justru beramai-ramai menggembosi KPK. Seperti dikutip Kompas, pegiat anti korupsi Saldi Isra menilai bahwa Polri terlalu mendramatisasi pemeriksaan terhadap Wakil Ketua KPK, Chandra M Hamzah yang melakukan penyadapan telepon seluler Rani Juliani dan almarhum Nasrudin Zulkarnain (Kompas, 25 Juni 2009). Menurut Saldi, KPK mempunyai prosedur standar operasional ketat terkait penyadapan. KPK tak akan menyadap jika tak memiliki dasar yang kuat dan jelas.

Komjen Susno Duadji kini juga tengah gerah karena telepon selulernya disadap oleh penegak hukum lain. Rekaman sadapan konon menunjukkan bahwa Kabareskrim Mabes Polri tersebut meminta imbalan sebesar Rp 10 miliar atas jasanya melancarkan pencairan uang PT Lancar Sampoerna Bestari terkait dengan kasus Bank Century (Majalah Tempo Edisi 6-12 Juli 2009). Dalam artikel yang sama, di ujung cerita, Susno mengibaratkan dirinya dan institusinya sebagai buaya dan mengatakan institusi penyadap sebagai cicak, "...cicak kok mau melawan buaya...", ujarnya.

Kita tahu apa dan siapa yang dimaksud sebagai cicak. Perumpamaan ‘cicak' jelas merupakan upaya pengkerdilan dan melemahkan gerakan anti-korupsi. Bila untuk mendukung gerakan anti-korupsi harus menjadi ‘cicak', marilah kita semua menjadi cicak. Anda cicak, saya cicak, kita semua cicak. Dan mereka buaya.

Cicak sedunia, bersatulah! Kita yang dimiskinkan dunia...

Dukung CICAK (Cintai Indonesia Cintai KPK) !

Selengkapnya...

Rabu, 08 Juli 2009

Hurr : mengapa kita melupakannya?

Hurr adalah nama salah seorang panglima tinggi tentera ‘Umar bin Sa’ad yang menghadapi cucu Nabi Saw, Husain bin ‘Alî, atas perintah dari Yazid bin Muawiyah untuk melaksanakan salah satu dari dua perintahnya, yaitu mendapatkan baiat (sumpah setia) Husain bagi kekhalifahannya yang korup, atau membunuh Husain dan semua sahabatnya. Adalah Hurr dan tenteranya yang mula-mula menghadapi Imam Husain, dan kemudian mengepungnya, serta menghalangi beliau dan para sahabatnya untuk mendapatkan air minum. Pada hari ‘Asyura, Hurr membuat sebuah keputusan yang besar. Persis sebelum pertempuran dimulai, dia meninggalkan posisi dan pasukan yang sedang dipimpinnya, dan bergabung dengan Imam Husain. Dan menjadi syahid pertama yang terbunuh di jalan Allah oleh tentera yang beberapa jam sebelumnya masih berada di bawah komandannya. Nama Hurr bererti “merdeka, lahir sebagai orang merdeka, mulia, orang bebas.”

Takdir terkadang melakukan sebuah permainan. Pabrik penciptaan terus-menerus memproduksi makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya: batu-batu, pohon-pohon, sungai-sungai, serangga-serangga, manusia, dan terkadang memperlihatkan sebuah adegan humor, menciptakan sebuah inovasi atau kekecualian: ia menulis puisi, menggambar sebuah lukisan, atau melakukan sesuatu yang unik. Dalam satu kata, dapat dikatakan bahawa benda-benda ciptaan tersebut mempunyai “karakter”. Dari antara rumah-rumah, ada Ka’bah, dari antara semua tembok, ada Tembok Besar Cina; dari antara planet-planet yang mengelilingi matahari, ada bumi, dan dari semua syuhada, ada Hurr.


Tangan artistik takdir telah menyusun adegan ini dengan tingkat ketepatan dan ketelitian yang paling tinggi. Dan seolah-olah hendak menekankan pentingnya ceritera yang sedang terjadi, ia memilih semua pemain lakonnya dari pemain-pemain yang berkarakter absolut, alias mutlak, dengan tujuan untuk menjadikan ceritanya lebih efektif.

Cerita yang sedang kita bicarakan ini adalah tentang sebuah “pilihan”, sebuah manifestasi terpenting dari arti menjadi seorang manusia. Tetapi, pilihan macam apa? Kita semua dihadapkan pada beberapa pilihan dalam kehidupan kita sehari-hari: karier, teman, isteri, rumah, bidang studi. Tetapi dalam cerita ini, pilihannya jauh lebih sulit: antara baik dan buruk. Dan di samping itu, pilihan tersebut juga bukan dari sudut pandang filosofis, ilmiah, ataupun teologis. Sungguh, pilihan yang sedang kita bicarakan di sini adalah pilihan antara agama yang benar dan agama yang lancung, antara politik yang adil dan politik yang zalim, dengan nyawa sebagai harga yang harus dibayar untuk pilihan yang diambil.

Untuk menekankan lebih jauh sensitifnya situasi, pencipta lakon cerita ini tidak menempatkan sang pahlawan di tengah-tengah antara yang benar dan yang bathil. Alih-alih, si pahlawan adalah pemimpin dari pasukan tentera yang berdiri di pihak yang jahat. Di lain pihak, sutradara lakon ini harus mencari lambang-lambang bagi ceritanya untuk membuatnya efektif. Akankah dia menempatkan Prometheus di satu pihak dan beberapa setan di pihak yang lain? Tapi pemilihan tokoh-tokoh seperti ini akan menjadikan ceritanya terlalu berbau mitos. Bagaimana dengan Spartacus dan Crasius? Tidak, nama-nama ini akan membuat ceritanya bercorak nasionalistis dan memberikan kepadanya sifat bergantung pada kelas sosial. Bagaimana dengan Ibrahim dan Namrud? Mûsâ dan Fir’aun? Yesus dan Judas? Tidak juga. Sebab bagi kebanyakan orang nama-nama ini adalah tokoh-tokoh yang bersifat metafisik dan terlalu “tinggi”, jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Memasang mereka sebagai pemain utama akan mengurangi efek cerita, dan menjadikan orang mengagumi mereka, tapi tidak akan berpikir untuk mengikuti contuh teladan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tujuan utama cerita ini adalah untuk mengajar, menunjukkan kemampuan manusia untuk berubah, untuk menunjukkan bahawa adalah mungkin bagi seorang awam, bahkan seorang yang berdosa, untuk memutuskan semua ikatan sosial, kekeluargaan dan kelasnya, dan memperlihatkan perubahan yang suci.

Sejarah Islam penuh dengan fenomena kontradiksi. Kedua garis pertentangan yang berawal dari Habil dan Qabil dan yang terus ada di sepanjang sejarah, secara berhadapan dalam berbagai wajah, juga terus berlanjut di dalam Islam. Nah, dalam cerita ini kedua aliran ini sama-sama mengenakan baju Islam, tapi dengan arah menghadap yang berlawanan. Ironisnya, pahlawan kita diharuskan memilih antara ujung-ujung yang paling ekstrim pada masing-masing pihak, iaitu: Yazid vs. Husain. Sungguh, seandainya cerita ini dikarang oleh seorang pengarang, niscaya dia akan segera boleh dikenali dan diakui kerana keaslian dan kualitas seninya...

Siapa nama pahlawan ini? Bagi seorang tokoh sejarah, apa yang penting adalah peranan yang dimainkannya, bukan namanya. Sebab namanya adalah sesuatu yang dipilihkan untuknya oleh keluarganya, sesuai dengan selera orangtuanya. Di lain pihak, jika cerita ini diciptakan oleh seorang pengarang yang memiliki originaliti, niscaya dia akan memilih sebuah nama yang relevan dengan peranan yang dimainkan oleh pahlawannya. Tetapi dalam cerita ini pahlawan kita telah diberi nama Hurr oleh ibunya, seolah-olah ibunya telah melihat peranan sangat peka yang akan dimainkan oleh anaknya nanti. Maka, ketika sang Pemimpin kemerdekaan memandangi tubuhnya yang berlumuran darah sesaat sebelum dia menghembuskan nafas yang terakhir, beliau mengatakan kepadanya: “Wahai Hurr, semoga Allah merahmatimu! Engkau adalah seorang yang merdeka di dunia ini dan juga di akhirat nanti, persis sebagaimana arti nama yang diberikan ibumu kepadamu!”

Meskipun Hurr telah memainkan peranan yang unik dalam sejarah, namun esensi peranannya tidaklah terbatas hanya pada dirinya saja. Makna tindakannya, dalam kenyataannya, mencakup semua manusia, malahan dapat dikatakan mendefinisikan “kemanusiaan”. Tindakannya itulah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya, yang menggaris-bawahi tanggung jawab manusia dan terhadap Tuhan, terhadap sesama manusianya dan terhadap dirinya sendiri. Dan Hurr telah memainkan peranannya tidak dengan kata-kata dan konsep-konsep, tetapi dengan cinta dan darah. Jika kita menangkap kedalaman kata-kata Imam Shâdiq bahawa “Setiap hari adalah hari ‘Asyura dan setiap tempat adalah Karbala, dan setiap bulan adalah bulan Muharram”, maka kita akan segera mengerti perluasan kata-kata ini, iaitu: “dan setiap orang adalah Hurr!”

Sejarah kita, yang berawal dari Habil dan Qabil, adalah manifestasi dari pertentangan abadi antara kubu Tuhan dan kubu Syaitan, meskipun dalam masing-masing zaman kedua kubu ini diselubungi samaran yang berbeda. Kerana itu, dalam setiap masa, setiap orang mendapati dirinya berada pada posisi yang sama dengan Hurr: sendirian, di tengah-tengah, ragu-ragu, di antara dua pasukan tentera yang sama. Di satu pihak, komandan tentera kejahatan berseru kepada pasukannya: “Wahai tentera Allah! Serbu!” dan di pihak lain, seorang Imam, dengan suara yang bergema sepanjang sejarah, bertanya - bukan memerintah - “Adakah orang yang mau membela aku?” Dan anda, orang itu, mesti memilih.

Dengan pilihan inilah Anda menjadi manusia. Sebelum menjatuhkan pilihan, Anda bukan apa-apa. Anda hanya suatu eksistensi tanpa esensi, anda berdiri di tengah-tengah. Jadi, orang yang mendapatkan eksistensi melalui kelahiran, menemukan “esensi” melalui pilihan. Dengan pilihan inilah penciptaan manusia menjadi sempurna, dan inilah tepatnya saat ketika manusia merasakan beban berat di pundaknya dan mendapati dirinya sendirian, kerana Tuhan dan alam telah membiarkannya berdiri sendiri dalam membuat keputusan yang penuh bahaya ini.

Sekarang kita boleh menilai pahlawan kita, kita boleh merasakan perjalanan panjang apa yang telah ditempuhnya dalam waktu singkat itu, perjalanan untuk mengubah dirinya dari seorang Hurr yang berdiri di pihak Yazid menjadi Hurr yang membela Husain. Jika dia tetap berada bersama tentera Yazid, maka dunianya akan terjamin. Dan jika dia bergabung dengan pasukan Husain yang jumlahnya kecil, maka kematiannya dapat dipastikan. Saat itu adalah pagi di hari ‘Asyura, dan meskipun pertempuran belum dimulai di lapangan, Hurr menyedari bahawa kesempatan baginya tidak akan lama. Waktu berjalan cepat, dan detik-detik yang berlalu sangat bererti. Badai telah mulai bergolak di dalam dirinya.

Sejak mula, Hurr telah berharap bahawa insiden-insiden yang telah terjadi tidak akan membawa kepada peperangan. Tapi sekarang perperangan tampaknya tak boleh dihindarkan lagi. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas untuk bertoleransi terhadap rasa malu dan kehinaan, kecuali mereka yang memang genius dan boleh mentoleransi kehinaan hingga pada tingkat yang tak terbatas. Tak pernah terlintas dalam benak Hurr bahawa menjadi “pegawai” dalam pemerintahan Yazid akan bererti harus berkomplot dalam tindakan-tindakan kriminalnya. Baginya, pekerjaannya hanyalah sumber penghidupan yang tak ada sangkut pautnya dengan politik ataupun agamanya.

Sekarang dia menyedari bahawa menyatukan kedudukannya dengan agamanya adalah hal yang mustahil. Maka, dengan putus asa dan sebagai langkah terakhir, dia lalu berbicara kepada komandan pasukannya (Umar bin Sa’ad) yang - sebagaimana dirinya - juga enggan terlibat dalam peperanangan dan hanya mahu menerima tugas yang diberikan kepadanya kerana dijanjikan akan diberi jabatan sebagai gabernor wilayah Ray dan Jurjan. Hurr berfikir, apa yang lebih baik dari pada mencapai sebuah solusi tanpa terlibat dalam penumpahan darah cucu Nabi dan keluarganya.

Baik Hurr maupun Umar bin Sa’ad ketika menempuh perjalanan dari istana Yazid ke Karbala bersama-sama, dan keduanya mempunyai status dan kedudukan sosial yang sama. Hurr bertanya kepada Umar: “Bolehkah kamu mencari jalan keluar dari situasi ini?”

Umar menjawab: “Engkau tahu bahawa seandainya wewenang berada di tanganku, pasti akan aku akan melakukan apa yang kau usulkan itu. Tapi atasanmu ‘Ubaidullah bin Ziyad tidak mau menerima penyelesaian damai!”

“Jadi, apakah engkau akan berperang dengan orang ini (Husain)?”

“Ya. Demi Tuhan, aku akan terjun ke dalam peperangan yang akibatnya yang paling ringan adalah terpenggalnya kepala-kepala dan terpotongnya tangan-tangan.”

Sekarang, nyata sudah bagi Hurr bahawa dia tidak boleh lagi bermain-main dengan agamanya. Maka kedua rakan itu pun lalu bersimpang jalan.

Bagi Hurr, tentera Yazid yang berjumlah puluhan ribu itu sekarang bukan apa-apa lagi, tak lebih dari sekumpulan wajah yang tak punya erti. Segerombolan besar manusia tanpa peribadi, sekelompok individu tanpa hati. Orang-orang yang berteriak-teriak penuh semangat, tanpa tahu mengapa mereka berteriak-teriak. Serdadu-serdadu yang bertempur tanpa tahu untuk siapa mereka berperanang. Sekarang Jesus-nya cinta dan kesedaran menyembuhkan orang yang buta dan menghidupkan kembali orang yang mati, menciptakan seorang syahid dari seorang pembunuh. Dalam sebuah perjalanan, tidaklah cukup menanyakan tujuan saja. Kita juga mesti bertanya tentang darimana berangkatnya. Dengan demikian, panjangnya perjalanan Husain menjadi jelas manakala kita menyedari dari mana dia mulai dan di mana dia berhenti, yang semuanya terjadi dalam waktu setengah hari.

Dalam hijrahnya dari Syaitan menuju ke Allah, Hurr tidak mempelajari filsafat ataupun teologi, tidak pula menghadiri kuliah atau pergi ke sekolah. Dalam kenyataannya “arah” inilah yang memberi erti kepada segala sesuatu: seni, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, agama, doa-doa, ibadah haji, Muhammad, dan ‘Alî.

Setelah memulai perjalanannya, maka sambil mengendarai kudanya, maka dengan perlahan-lahan Hurr meninggalkan pasukan tenteranya menuju ke kelompok Husain. Muhajir bin Aus, yang melihat tingkah laku Hurr, yang tampak gelisah hebat dan cemas, bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi dengan dirimu, Hurr? Aku bingung melihat tingkahmu. Demi Allah, jika aku ditanya siapa orang yang paling pemberani di kalangan pasukan kita, niscaya akan ku sebutkan namamu tanpa ragu-ragu lagi. Tapi, mengapa engkau begitu gelisah dan cemas?”

“Aku mendapati diriku berada di antara Neraka dan Syurga, dan aku harus memilih di antara keduanya. Demi Allah, aku tidak akan memilih selain Syurga, meskipun tubuhku akan dipotong-potong atau dibakar menjadi abu.”

Penciptaan Hurr-pun disempurnakan dan api keraguan telah membawanya kepada kebenaran yang pasti. Dengan perlahan-lahan dia menghampiri kubu Husain. Dan setelah dekat dia lalu menggantungkan kedua sepatunya di lehernya dan merendahkan perisainya (sebagai tanda penyesalan).

“Akulah orang yang telah menutup jalanmu, wahai Husain,” katanya. Dan dia menolak ajakan Husain untuk beristirahat sejenak. Dia sudah tak sabar lagi.

“Apakah ada taubat bagiku?” tanyanya. Dan dia tidak dapat menunggu jawaban atas pertanyaannya itu. Dia langsung maju ke depan dan menyerang pasukan Umar dengan kata-kata yang paling pahit dan pedas, untuk menunjukkan kepada bekas tentera dan komandannya bahawa dia bukan lagi seorang budak, melainkan seorang merdeka, seorang “Hurr”.

Umar bin Sa’ad, bekas komandannya, menanggapinya dan menembakkan sebatang anak panah, seraya berseru: “Saksikanlah dan biarkanlah Amirul Mukminin tahu bahawa akulah orang pertama yang menembakkan panah kepada tentera Husain!”

Dan demikianlah pertempuran Karbala dimulai.....

sumber :
Dirangkum dari Islam Alternatif
http://swaramuslim.com/ebook/html/022/index.php?page=karbala_tokoh#03
Selengkapnya...

Selasa, 07 Juli 2009

HADIAH ULANG TAHUN BUAT SANG ANAK

oleh : Sang Murid

Seorang bapak memberikan hadiah buku berjudul "Musashi", sebuah novel sejarah yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Saat itu anaknya baru genap berumur tujuh tahun..

Disampul dalam buku itu ada tertempel sebuah surat yang isinya...

Anakku
buku ini kami beli menjelang ulang tahun-mu yang ke-tujuh

hadiah yang terlalu berat untuk anak se-usiamu saat itu
tapi buku inilah salah satu hal yang harus kami hadiahkan kepadamu
entah untuk hadiah ulang tahunmu yang ke berapa pantasnya
atau disaat yang seperti apa kau membacanya
tapi buku ini kami harapkan menyadarkanmu

memberikan sebuah petunjuk, ide bahkan metode

bahwa hidup seorang lelaki bukanlah untuk mencari makan
tetapi untuk menjadi sesuatu yang sejati
sesuatu yang dituliskan dibatu nisannya
...


Anakku
aku sendiri membaca buku ini di gerbang kedewasaanku

membuat aku akhirnya memilih sebuah jalan

yang kutempuh sampai saat aku menulis surat ini

dan istriku (mama) bagaikan Otsu di cerita itu

memang hidup bukanlah sebuah komik

tetapi jika kau menjadi salah satu legenda itu

maka kehidupanmu akan dikenang

bahkan akan dibuatkan novel, film bahkan komik
...
Anakku apapun jalan yang kau pilih

ilmuwan, filsuf, pedagang, karyawan, ulama, prajurit dsb-nya

terlebih dahulu yakinilah bahwa jalan itu adalah jalan yang lurus

jalan yang dilimpahi nikmat-Nya dan bukan yang di murkai-Nya

jika demikian maka kau akan menjadi manusia sejati
...
yang amat mencintaimu


papa dan mama

Selengkapnya...

REVRISON BASWIR: EKONOM SBY-BOEDIONO KADAR NEOLIBNYA TINGGI

Jakarta, 3/6 (Roll News) - Pakar ekonomi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Revrison Baswir mengatakan para ekonom yang mendukung pasangan capres Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono memiliki kadar neoliberal yang tinggi.

"Jadi kalau di lingkungan SBY- Boediono sudah jelas saya kira. Ekonom-ekonom yang berkumpul di sana kadar neoliberalnya tinggi, pemikir-pemikirnya cenderung neolib," kata pakar ekonom dari UGM dan peneliti kebijakan publik, Revrison Baswir ketika dihubungi di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut Revrison menjelaskan untuk tim ekonomi pasangan capres lainnya JK-Wiranto dan Mega-Pro mempunyai kesempatan untuk berpikir berdasarkan konstitusi termasuk dalam merespon krisis yang terjadi saat ini.

Revrison juga menjelaskan bahwa neolib tidak ada hubungannya dengan kesederhanaan dalam sikap seperti yang dilontarkan cawapres Boediono ketika membantah sebagai penganut faham neolib.


Menurut Revrison seorang penganut faham neolib bisa sangat sederhana dalam penampilan.

"Saya khawatir, jangan-jangan kalau kita bertemu Martin Friedman, bapaknya neolib di Chicago, itu jangan-jangan justru lebih sederhana lagi," kata Revrison.

Karena itu Revrison mengingatkan agar soal kesederhanaan sikap seseorang jangan dijadikan ukuran untuk membedakan seseorang neolib atau bukan.

"Yang namanya ilmuwan, bawaannya sederhana. Masa Martin Friedman pesta pora, kan gak," kata Revrison.

Sementara menurut ekonom UGM, Sri Adiningsih mengatakan neolib itu ada plus minusnya.

"Dalam artian, apakah kita tidak perlu menjalin ekonomi dengan negara lain. Itu kan perlu," kata Sri Adiningsih. Namun, Adiningsih menegaskan intinya bagaimana bisa menjalin kerjasama ekonomi yang menguntungkan rakyat Indonesia.

Untuk itu, Sri Adiningsih mengingatkan bahwa siapapun yang jadi presiden, tim ekonominya harus kuat.

"Saya khawatir kalau tim ekonominya banyak yang dipolitisasi kebijakannya maka nanti kita terjebak pada kepentingan jangka pendek, masalah-masalah struktural bangsa diabaikan," kata Sri Adingsih.

Menurut Sri Adiningsih pengalaman krisis ada banyak hal yang dipelajari, salah satunya jangan menggantungkan utang ke luar negeri.

"Kita harus banyak membangun ekonomi domestik. Ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi kita," kata Sri Adiningsih.

Selengkapnya...

Liberalisasi dan Globalisasi Melemahkan Daya Juang Ekonomi Rakyat

EDITORIAL (Edisi November 2003)
JURNAL EKONOMI RAKYAT
oleh : Prof. Dr. Mubyarto, SE

Seorang peserta Seminar “Peringatan 75 tahun Sumpah Pemuda” di Wina, Austria, 25 Oktober 2003, secara polos menyatakan bahwa penghisapan (eksploitasi) para investor atau pemodal, luar negeri atau dalam negeri, terhadap kekayaan alam Indonesia (SDA) dan bahkan terhadap manusia Indonesia (SDM), tidak perlu dipermasalahkan, daripada manusia Indonesia banyak yang menganggur. Dengan perkataan lain pengangguran dianggap musuh utama ekonomi Indonesia lebih-lebih sejak krismon 1997 yang sekarang dikatakan sudah mencapai “40 juta orang”. Investor adalah “dewa penolong” yang dapat menciptakan kesempatan kerja bagi banyak penganggur Indonesia.

Adakah yang salah dalam pola pikir warga negara Indonesia yang kini bekerja di perusahaan Jerman tersebut? Ya, dan kesalahan cara berpikir ini sangat dipengaruhi oleh iklim ekonomi global yang liberal, dan pengangguran yang luas di Indonesia juga dilihat sebagai fenomena Jerman. Dengan kata lain “kacamata” Jerman dipakai untuk melihat fenomena pengangguran Indonesia. Di Jerman menganggur adalah satu malapetaka dan penganggur adalah orang yang pasti miskin, sehingga penganggur sangat mendambakan kesempatan bekerja apapun yang dibuka oleh perusahaan.


Jalan pikiran yang menganggap perusahaan adalah “dewa penyelamat”, bukan sebagai penghisap, adalah benar “dalam suasana ekonomi global yang sudah bersemangat liberal”.

Tetapi dalam sistem (aturan main) ekonomi Pancasila yang bermoral, manusiawi, nasionalistik, kerakyatan/demokrastis, dan bertekad mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, penghisapan oleh pemodal dari manapun termasuk pemodal nasional harus ditolak. Ekonomi Pancasila melawan ekonomi yang menghisap (eksploitatif). Ekonomi Pancasila bersifat partisipatif yang lebih menghargai mansia dibandingkan alat atau teknologi, lebih-lebih modal uang.

Globalisasi adalah aturan main yang dibuat oleh para pemodal dari negara industri maju yang pasti lebih menguntungkan pembuatnya, dan pasti merugikan manusia di negara-negara miskin yang sedang berkembang. Kita tidak menentang globalisasi tetapi globalisasi harus kita atur kembali hingga sesuai dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial, bukan malah makin meningkatkan ketidakadilan sosial.

Globalization entails the closer integration of the countries of the world and that means there is going to be more interdependence. Our welfare, our well-being, will depend on others, and it will depend on how globalization is managed (Joseph Stiglitz, We have to make globalization work for all, The Jakarta Post, 22 Oktober 2003: 7).



Yogyakarta, 1 November 2003

Mubyarto/Redaksi

Selengkapnya...