Tuan Presiden kita beriklan
Meminjam jingle mie instan
Negara apakah yang kita angankan?
Tentu saja negara karbitan
Visi pembangunan ditentukan oleh reaksi spontan, bukan lagi oleh sebuah gagasan
Kritik dianggap tidak sopan
Kelak demonstrasi akan mudah saja diamankan
Keberhasilan pembangunan ditentukan oleh statistik angka-angka yang dipublikasikan
Sementara rakyat tetap saja menjadi korban
Dalam jingle mie instan, presiden kita tampil dengan segala kelebihan
Tiada cela tanpa kekurangan
Polesan citra diri lewat iklan menjadikan dirinya seorang Megaloman
Bila citra iklan telah menjadi komandan, maka gagasan hanya akan menjadi sampiran
Pemimpin hanya akan akan memikirkan penampilan ketimbang dampak pembangunan
Fungsi negara mengalami pergeseran, sebab hanya menjadi manifestasi kepentingan
Maka semua masalah kenegaraan pun diserahkan kepada konsultan
Hanya pada saat-saat keberhasilan pemimpin tampil ke depan
Bila keadaan genting, presiden akan ber-akting layaknya bintang opera sabun, tampil dengan wajah tertekan
Simpati didapatkan, masalah tidak terpecahkan
Beginilah nasib negara karbitan
Pada saat gagasan dikalahkan oleh mie instan, kita menjadi negara Indonesia Instan
Semua masalah dipikirkan spontan
Diatasi dengan cara-cara juragan
Menekan mereka yang lemah sembari menyelamatkan mereka yang mapan.
Kami tidak butuh pemimpin yang senantiasa tampil menawan, sementara rakyat bawah terkucilkan
Kami juga tidak perlu mulut yang sopan, bila itu semua digunakan untuk menutupi ketidakjujuran
Kami tidak bangga punya pemimpin jenderal bintang empat, bila dia tidak pernah jadi komandan
Kami malu punya Doktor Pertanian bila untuk mendapatkan pupuk saja petani kelabakan
Kami tidak butuh pemimpin yang mendapatkan penghargaan sebagai tokoh dunia terdepan
Bila bergandengan tangan dengan rakyat saja dia enggan
Kami benar-benar tidak butuh pemimpin yang dipoles lewat iklan dengan meminjam jingle mie instan
Sebab negara kami bukanlah negara instan
Negara kami lahir dari sebuah gagasan, dibangun dengan perjuangan
Dan kami menjaganya lewat angan-angan sebuah kemakmuran
Itu bukanlah sebuah proses yang instan
Berbeda sekali dengan apa yang Tuan lakukan dengan jingle iklan
Tuan yang beriklan, kami bukan mie instan
Bisa Tuan remas hingga hancur berantakan
Bisa Tuan rendam hingga lemas tidak berkekuatan
Kami adalah rakyat kebanyakan, tetapi kami belajar dari mereka yang jadi korban iklan
Cukup sudah semua polesan, rasa bosan akan menghentikan
Dan kami sekarang sudah bosan
Kami butuh pemimpin yang satu kata, satu perbuatan
Kami tidak butuh pemimpin yang gila penghargaan tetapi miskin teladan
Kami akan meninggalkan pemimpin yang mengandalkan konsultan
Dan bukan menjaga kepercayaan
Karena kami sadar bahwa kami yang menentukan
Maka jangan harap Tuan bisa mengubah Indonesia menjadi negara Instan
dikutip dari http://groups.google.com/group/RantauNet/
Selengkapnya...
Minggu, 05 Juli 2009
Ini Bukan Negara Instant !!!
Kamis, 02 Juli 2009
Anak
Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup,
melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.
Bangsa Kasihan
Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum anggur yang tidak ia memerasnya..
Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah..
Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah kepadanya ketika bangun..
Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan diatas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali lehernya sudah diantara pedang dan landasan..
Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru..
Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi..
Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya masih dalam gendongan..
Kasihan bangsa yang terpecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa..
Selengkapnya...

