oleh : Sang Murid
Seorang bapak memberikan hadiah buku berjudul "Musashi", sebuah novel sejarah yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Saat itu anaknya baru genap berumur tujuh tahun..
Disampul dalam buku itu ada tertempel sebuah surat yang isinya...
Anakku
buku ini kami beli menjelang ulang tahun-mu yang ke-tujuh
hadiah yang terlalu berat untuk anak se-usiamu saat itu
tapi buku inilah salah satu hal yang harus kami hadiahkan kepadamu
entah untuk hadiah ulang tahunmu yang ke berapa pantasnya
atau disaat yang seperti apa kau membacanya
tapi buku ini kami harapkan menyadarkanmu
memberikan sebuah petunjuk, ide bahkan metode
bahwa hidup seorang lelaki bukanlah untuk mencari makan
tetapi untuk menjadi sesuatu yang sejati
sesuatu yang dituliskan dibatu nisannya
...
Anakku
aku sendiri membaca buku ini di gerbang kedewasaanku
membuat aku akhirnya memilih sebuah jalan
yang kutempuh sampai saat aku menulis surat ini
dan istriku (mama) bagaikan Otsu di cerita itu
memang hidup bukanlah sebuah komik
tetapi jika kau menjadi salah satu legenda itu
maka kehidupanmu akan dikenang
bahkan akan dibuatkan novel, film bahkan komik
...
Anakku apapun jalan yang kau pilih
ilmuwan, filsuf, pedagang, karyawan, ulama, prajurit dsb-nya
terlebih dahulu yakinilah bahwa jalan itu adalah jalan yang lurus
jalan yang dilimpahi nikmat-Nya dan bukan yang di murkai-Nya
jika demikian maka kau akan menjadi manusia sejati
...
yang amat mencintaimu
papa dan mama
Selengkapnya...
Selasa, 07 Juli 2009
HADIAH ULANG TAHUN BUAT SANG ANAK
Kamis, 02 Juli 2009
Anak
Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup,
melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

